Rumah bolon merupakan rumah adat suku Batak yang berasal dari daerah di Provinsi Sumatera Utara. Rumah bolon menjadi simbol dari identitas masyarakat Batak yang merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia. Rumah bolon sering disebut juga rumah gargo merupakan sebuah rumah pertemuan kelurga besar.Bila diartikan, bolon berati Rumoh Aceh, Rumah Adat Masyarakat Acehbesar. Rumah Bolon memiliki makna rumah besar, karena memang ukurannya cukup besar. Perancang dari Rumah Bolon adalah arsitektur kuno Simalungun. Rumah adat Bolon ini sekaligus menjadi simbol status sosial masyarakat Batak yang tinggal di Sumatera Utara. Dulu rumah adat Bolon ditinggali para raja di Sumatera Utara. Ada sekitar 13 kerajaan yang silih berganti menempati rumah Bolon.
Awalnya, Rumah Bolon merupakan tempat tinggal 13 raja-raja suku Batak. Namun seriring berjalannya waktu, rumah adat ini mulai digunakan oleh penduduk suku Batak dari kalangan umum. Sejarah Rumah Adat Bolon diawali dengan awal pembangunannya yang pertama kali dibangun oleh Raja Tuan Rahalim yang memiliki 24 istri. Tidak semua istri-istri Raja Tuan Rahalim menempati Rumah Bolon, melainkan hanya permaisuri (puang bolon) dan 11 orang selir (nasi puang) beserta 46 orang anaknya. Untuk 12 orang istri lainnya tinggal di wilayah lain di sekitar area kerajaan. Seiring berjalannya waktu, Tuan Mogang Purba yang merupakan raja terakhir yang mendiami Rumah Bolon tidak memiliki kekuasaan sebagai raja lagi. Karena, sering dengan kemerdekaan Republik Indonesia, berakhirlah kedaulatan raja-raja di Indonesia dan berganti dengan bentuk kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pewaris Rumah Adat Bolon yang pertama kemudian menyerahkan rumah tersebut beserta seluruh isinya kepada Pemerintah Daerah Sumatera Utara pada tahun 1961. Dari situlah awal Rumah Adat Bolon dijadikan sebagai perwakilan rumah adat Sumatera Utara.
Rumah Adat Bolon dibangun dengan konstruksi rumah panggung dengan bentuk persegi panjang yang sederhana. Material yang digunakan untuk membangun rumah adat Sumatera Utara ini hampir semuanya menggunakan material alam seperti kayu, bambu, dan batuan. Desain atapnya menyerupai bentuk pelana kuda yang dibuat cukup tinggi dengan sudut-sudut yang sempit. Bagian atap dihiasi dengan anyaman-anyaman sehingga membuatnya tampak semakin menarik. Meskipun dinding dari rumah adat Bolon dibuat cukup pendek, namun dibuat tanpa plafon. Hal tersebut membuat orang dewasa dapat berdiri dengan nyaman di dalamnya.